Tugas PKN
Pengaruh Globalisasi Terhadap Pendidikan

Oleh
Kelompok 5
1. Ana salsabila (05)
2. Katon
Rembulan (15)
3. M.
Fatkhu rizqi (17)
4. Sofyan
fikri (25)
5. Titis
Hayuning K (26)
SekolahMenengahPertamaNegeri
1 Genteng
Tahun ajaran 2013 / 2014
Bab I
LatarBelakang
Dewasaini era globalisasimenuntutkesiapan yang
lebihmatangdalamsegalahal.
Bidangpendidikanmerupakansalahsatuandalanuntukmempersiapkansumberdayamanusia
yang dibutuhkanuntukmenghadapitantanganzaman. Persiapantersebutdapatdimulaidaripendidikanusiadini,
pendidikandasar, pendidikanmenengah, hinggapendidikantinggi.
Perananpendidikandalammempersiapkansumberdayamanusiadalammenghadapi era
globalisasitidaklahmudah. Pendidikanselalumenghadapitantangan yang beratdalam proses
pelaksanaannya.
Masalahmutuadalahsalahsatutantanganterbesardalambidangpendidikan. Mendidikanakmulaidarinolhinggamemperolehpengetahuan
yang bermutukemudianmempertahankanmututersebutsangatlahsulit.
Dengandemikiandiperlukanperhatian yang intensifdalampelaksanaan proses
pendidikantersebut. Dan jikakitaberbicara proses
makapastiberkaitandenganbelajar.
Belajar,Perkembangandanpendidikanmerupakanhal yang
menarikuntukdipelajari. Ketigagejalatersebutterkaitdenganpembelajaran.
Belajardilakukanolehsiswasecaraindividu. Perkembangandialamidandihayati pula
olehindividusiswa. Sedangkanpendidikanmerupakankegiataninteraksi.
Dalamkegiataninteraksitersebutpendidikatau guru
bertindakmendidikpesertadidikatausiswa.
Tindakmendidiktersebuttertujupadaperkembangansiswamenjadimandiri.
Untukdapatbberkembangmenjadimandiri, siswaharusbelajar.
Bilasiswabelajarmakaakanterjadiperubahan mental padadirisiswa.Dalampendidikan,
belajarmerupakan kata kunci yang paling penting.
Jikatidakadabelajarmakatidakakanadapendidikan.
Belajarmerupakansuatutindakandanperilaku yang kompleks.
Belajarmerupakansuatukegiatan yang tidakdapatdiamatidariluar .Apa yang
terjadidalamdiriseseorangtidakdapatdiketahuisecaralangsunghanyadenganmengamati
orang tersebut. Hasilbelajarhanyabisadiamatijikaseseorangmenampakkankemampuan
yang telahdiperolehmelaluibelajar. Karenanyaberdasarkanperilaku yang
ditampilkandapatditarikkesimpulanbahwaseseorangtelahbelajar.
Ada banyakfaktor yang dapatmempengaruhibelajar.
Faktor-faktortersebutdikelompokkandalamfaktor internal danfaktoreksternal.
Dalammakalahiniakandipaparkanmengenaiduafaktor yang termasukdalamkategorifaktor
internal yang mempengaruhi proses belajar,
yaitusikapbelajardankebiasaanbelajar.
1. Pengertian
Globalisasi
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat
yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.Globalisasi pada hakikatnya
adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk
diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan
bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia.
Globalisasi
pendidikan di Indonesia juga ditandai oleh ambivalensi yaitu berada pada kebingungan,
karena ingin mengejar ketertinggalan untuk menyamai kualitas pendidikan
Internasional, kenyataannya Indonesia belum siap untuk mencapai kualitas
tersebut. Padahal kalau tidak ikut arus globalisasi ini Indonesia akan semakin
tertinggal.
2. Ciri – CiriGlobalisasi
-
Penyebarluasangagasan,
pembaharuandanpenemuanhal-halbarumelaluipendidikan.
-
Masyarakat
yang aktif, kreatif, danselalumengikutizaman.
3. FaktorPendorong
-
Kemajuan di bidang IPTEK
4. TeoriTeoriGlobalisasi
-
(Menurut Edison A.
Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005) Globalisasi ditandai oleh ambivalensi – yaitu tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya
Bab II : Permasalahan
1.
Kalah nya
pendidikan bangsa indonesia di bandingkan dengan pendidikan bangsa lain
2. DampakpositifdanNegatifglobalisasi
di bidangpendidikan
Bab III : pembahasan
1.
Dampak Globalisasi
dalam dunia Pendidikan
Banyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri. Pendidikan model ini juga membuat siswa memperoleh keterampilan teknis yang komplit dan detil, mulai dari bahasa asing, computer, internet sampai tata pergaulan dengan orang asing dan lain-lain. sisi positif lain dari liberalisasi pendidikan yaitu adanya kompetisi. Sekolah-sekolah saling berkompetisi meningkatkan kualitas pendidikannya untuk mencari peserta didik.
Banyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulai melakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal ini terlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang membuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untuk menjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat. Dengan globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdagangan bebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau dunia pendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidak menjadi “budak” di negeri sendiri. Pendidikan model ini juga membuat siswa memperoleh keterampilan teknis yang komplit dan detil, mulai dari bahasa asing, computer, internet sampai tata pergaulan dengan orang asing dan lain-lain. sisi positif lain dari liberalisasi pendidikan yaitu adanya kompetisi. Sekolah-sekolah saling berkompetisi meningkatkan kualitas pendidikannya untuk mencari peserta didik.
Globalisasi seperti
gelombang yang akan menerjang, tidak ada kompromi, kalau kita tidak siap maka
kita akan diterjang, kalau kita tidak mampu maka kita akan menjadi orang tak
berguna dan kita hanya akan jadi penonton saja. Akibatnya banyak Desakan dari
orang tua yang menuntut sekolah menyelenggarakan pendidikan bertaraf
internasional dan desakan dari siswa untuk bisa ikut ujian sertifikasi
internasional. Sehingga sekolah yang masih konvensional banyak ditinggalkan
siswa dan pada akhirnya banyak pula yang gulung tikar alias tutup karena tidak
mendapatkan siswa.
Implikasinya, muncullah :
• Home schooling, yang melayani siswa memenuhi harapan siswa dan orang tua karena tuntutan global
• Virtual School dan Virtual University
Munculnya alternatif lain dalam memilih pendidikan
• Model Cross Border Supply, yaitu pembelajaran jarak jauh (distance learning), pendidikan maya (virtual education) yang diadakan oleh Perguruan Tinggi Asing ; contohnya United Kingdom Open University dan Michigan Virtual University.
• Model Consumption Aboard, lembaga pendidikan suatu negara menjual jasa pendidikan dengan menghadirkan konsumen dari negara lain; contoh : yaitu hadirnya banyak para pemuda Indonesia menuntut ilmu membeli jasa pendidikan ke lembaga-lembaga pendidikan ternama yang ada di luar negeri.
• Model Movement of Natural Persons. Dalam hal ini lembaga pendidikan di suatu negara menjual jasa pendidikan ke konsumen di negara lain dengan cara mengirimkan personelnya ke negara konsumen. Contohnya dengan mendatangkan dosen tamu dari luar negeri bekerja sama dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia (tidak gratis tentunya).
• Model Commercial Presence, yaitu penjualan jasa pendidikan oleh lembaga di suatu negara bagi konsumen yang berada di negara lain dengan mewajibkan kehadiran secara fisik lembaga penjual jasa dari negara tersebut.
Implikasinya, muncullah :
• Home schooling, yang melayani siswa memenuhi harapan siswa dan orang tua karena tuntutan global
• Virtual School dan Virtual University
Munculnya alternatif lain dalam memilih pendidikan
• Model Cross Border Supply, yaitu pembelajaran jarak jauh (distance learning), pendidikan maya (virtual education) yang diadakan oleh Perguruan Tinggi Asing ; contohnya United Kingdom Open University dan Michigan Virtual University.
• Model Consumption Aboard, lembaga pendidikan suatu negara menjual jasa pendidikan dengan menghadirkan konsumen dari negara lain; contoh : yaitu hadirnya banyak para pemuda Indonesia menuntut ilmu membeli jasa pendidikan ke lembaga-lembaga pendidikan ternama yang ada di luar negeri.
• Model Movement of Natural Persons. Dalam hal ini lembaga pendidikan di suatu negara menjual jasa pendidikan ke konsumen di negara lain dengan cara mengirimkan personelnya ke negara konsumen. Contohnya dengan mendatangkan dosen tamu dari luar negeri bekerja sama dengan perguruan tinggi yang ada di Indonesia (tidak gratis tentunya).
• Model Commercial Presence, yaitu penjualan jasa pendidikan oleh lembaga di suatu negara bagi konsumen yang berada di negara lain dengan mewajibkan kehadiran secara fisik lembaga penjual jasa dari negara tersebut.
Persaingan untuk
menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi, sehingga dapat masuk
dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangat membutuhkan kombinasi
antara kemampuan otak yang mumpuni disertai dengan keterampilan daya cipta yang
tinggi. Salah satu kuncinya adalah globalisasi pendidikan yang dipadukan dengan
kekayaan budaya bangsa Indonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas
pendidikan hendaknya selaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada
di bawah garis kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan
dengan kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar.
Tentu saja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belum
dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Sebagai contoh untuk dapat menikmati
program kelas Internasional di perguruan tinggi terkemuka di tanah air
diperlukan dana lebih dari 50 juta. Alhasil hal tersebut hanya dapat dinikmati
golongan kelas atas yang mapan. Dengan kata lain yang maju semakin maju, dan
golongan yang terpinggirkan akan semakin terpinggirkan dan tenggelam dalam arus
globalisasi yang semakin kencang yang dapat menyeret mereka dalam jurang
kemiskinan. Masyarakat kelas atas menyekolahkan anaknya di sekolah – sekolah
mewah di saat masyarakat golongan ekonomi lemah harus bersusah payah bahkan
untuk sekedar menyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ketimpangan ini dapat
memicu kecemburuan yang berpotensi menjadi konflik sosial. Peningkatan kualitas
pendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak sosial dalam
masyarakat akibat ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan tidak
diredam.
Selain itu ketidaksiapan
sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional dan
ketidaksiapan guru yang berkompeten dalam menyelenggarakan pendidikan tersebut
merupakan perpaduan yang klop untuk menghasilkan lulusan yang tidak siap pula
berkompetisi di era globalisasi ini alias lulusan yang kurang berkualitas.
Seperti yang dilansir KOMPAS.com tanggal 28 Oktober 2009 menyebutkan bahwa tiga
hasil studi internasional menyatakan, kemampuan siswa Indonesia untuk semua
bidang yang diukur secara signifikan ternyata berada di bawah rata-rata skor
internasional yang sebesar 500. Jika dibandingkan dengan siswa internasional,
siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal dalam kategori rendah dan sedikit
sekali, bahkan hampir tidak ada yang dapat menjawab soal yang menuntut pemikiran
tingkat tinggi. hasil tiga studi tersebut mengemuka dalam seminar Mutu
Pendidikan dan Menengah Hasil Penelitian Puspendik 2009 di Gedung Depdiknas,
Jakarta, Rabu (28/10). Masih dalam Kompas.com tanggal 28 Oktober 2009
menyebutkan salah satu penelitian yang mengungkap lemahnya kemampuan siswa,
dalam hal ini siswa kelas IV SD/MI, adalah penelitian Progress in International
Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studi internasional dalam bidang membaca
pada anak-anak di seluruh dunia yg disponsori oleh The International
Association for the Evaluation Achievement. Hasil studi menunjukkan bahwa
rata-rata anak Indonesia berada pada urutan keempat dari bawah dari 45 negara
di dunia. Demikian hasil studi tersebut dipaparkan dalam laporan penelitian
“Studi Penilaian Kemampuan Guru Melalui Video dengan Memanfaatkan Data PIRLS”
oleh Prof Dr Suhardjono dari Pusat Penelitian Pendidikan Depdiknas di Jakarta,
Rabu (28/10). Dalam laporan tersebut, Suhardjono menuturkan, muara dari
lemahnya pembelajaran membaca patut diduga karena kemampuan guru dan kondisi
sekolah.
Dalam lansiran lain
di Kompas.com tanggal 19 Juni 2009 Ir Hafilia R. Ismanto MM., Direktur Bidang
Akademik LBPP LIA, menyebutkan bahwa sampai saat ini masih banyak guru belum
berhasil untuk dijadikan role model sebagai pengguna Bahasa Inggris yang baik,
penyebab hal tersebut karena selama ini pihak sekolah dan guru belum melakukan
pendekatan integrasi antara content atau mata pelajaran dan Bahasa Inggris.
Tidak semua guru mata pelajaran bisa diberdayakan untuk memberikan materi
berbahasa Inggris, kecuali para guru itu memang benar-benar siap.
Pendidikan di
Indonesia sekarang membuat rakyat biasa sangat menderita. Pendidikan menjadi
sesuatu yang tak terjangkau rakyat kecil. Tidak ada penggolongan orang miskin
dan orang kaya. Lembaga pendidikan telah dijadikan ladang bisnis dan
dikomersialkan.
Kebijakan yang
mahal ini memang sangat merisaukan karena akan mengubur impian mobilitas kelas
sosial bawah untuk memperbaiki status kelasnya. Melalui sistem ini, maka yang
bisa diserap dalam lingkungan pendidikan adalah mereka yang memiliki modal yang
cukup. Sekolah kian menjadi lembaga elite dan bahkan menjadi kekuatan yang
menghadang arus mobilitas vertikal kelas sosial bawah. Dalam beberapa
aktivitasnya bahkan sekolah ikut terlibat melegitimasi tatanan yang timpang.
Jika diusut penyebab ini semua, tentu jawabannya adalah kebijakan ekonomi
neoliberal. Neoliberalisme berangkat dari keyakinan akan kedigdayaan pasar
serta pelumpuhan kekuasaan negara. Sekolah tidak perlu menjadi tanggungan
negara, cukup diberikan pada mekanisme pasar. Biarlah pasar yang akan
menyeleksi mana sekolah yang patut dipertahankan dan mana yang harus gulung
tikar. Di situ pendidikan berangsur-angsur menjadi tempat eksklusif yang
memberi pelayanan hanya pada mereka yang kuat membayar.
Implikasinya,
jutaan rakyat Indonesia belum memperoleh pendidikan yang layak. Bahkan tidak
sedikit pula yang masih berkategori masyarakat buta huruf. Mereka belum bisa
menikmati dunia pendidikan seperti anggota masyarakat yang mampu “membeli” dan
menikmati pendidikan. Masyarakat demikian mencerminkan suatu kesenjangan yang
serius karena di satu sisi ada sebagian yang bisa membeli politik komoditi
pendidikan secara mahal. Sementara tidak sedikit anggota masyarakat yang tidak
cukup punya kemampuan ekonomi untuk bisa membebaskan diri dari buta huruf
akibat dunia pendidikan yang tidak berpihak secara manusiawi kepada dirinya.
Biaya pendidikan yang melangit ini terjadi di dunia pendidikan dasar, menengah
hingga pendidikan tinggi.
Tidak hanya itu
implikasi dari makin mahalnya biaya pendidikan. Kualitas mahasiswa yang masuk
perguruan tinggi pun nantinya patut dipertanyakan karena bukan tidak mungkin
uang yang akan berbicara. Siapa yang lebih banyak dia yang akan menang. Bisa
jadi mereka yang memiliki kemampuan intelektual pas-pasan bisa mengenyam
pendidikan di jurusan dan universitas favorit karena dia bisa membayar biaya
yang cukup tinggi. Sementara itu, mereka yang memiliki kemampuan lebih tidak
bisa menyandang gelar mahasiswa lantaran tidak memiliki kemampuan finansial.
Realitas
menunjukkan, krisis yang menimpa dunia pendidikan di Indonesia, khususnya
kualitas pendidikan yang rendah, merupakan persoalan yang sangat kompleks.
Prasarana, sarana, dan fasilitas kurang memadai, anggaran pendidikan nasional
yang sangat minim, dan banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan
keahlian atau memang belum layak disebut guru merupakan faktor yang ikut
menyulitkan pengembangan kualitas pendidikan.
Selain itu telah
muncul banyak pernyataan dan keluhan tentang rendahnya kualitas sumber daya
manusia Indonesia, yang tentu saja terkait dengan mutu lulusan yang dihasilkan
oleh sistem pendidikan. Padahal, anggaran negara yang dialokasikan untuk
pendidikan itu selalu bertambah dari tahun ke tahun. Sungguh ironis memang,
anggaran selalu naik tetapi kualitas lulusan tetap rendah dan justru dirasakan
semakin mahal. Mengapa hal seperti ini terjadi, padahal kurikulum dan buku,
entah sudah berapa kali diubah. Entah sudah berapa macam metode mengajar yang ditatarkan
kepada guru. Akankah keadaan ini dibiarkan terus berlanjut? Jika tak
menghasilkan lulusan yang berkualitas dan dapat diandalkan, dapatkah pendidikan
itu disebut sebuah investasi untuk masa depan?
Namun seringkali
masyarakat hanya dibuai oleh janji-janji anggaran atau kebijakan bertemakan
“alokasi”. Faktanya mimpi masyarakat ini sulit terkabul dengan alas an-alasan
yang politis. Pejabat belum sungguh-sungguh menempatkan dunia pendidikan ini
sebagai penyangga kemajuan bangsa. Kenyataannya memang demikian. Subsidi
pemerintah pemerintah perlahan menyurut hingga tak lagi dapat mencukupi
kebutuhan universitas. Namun di balik itu semua ada hal yang terlewatkan oleh
para pimpinan universitas sebagai makin mahalnya biaya pendidikan. Yakni, kaum
miskin hanya bisa gigit jari karena tidak dapat meneruskan ke jenjang
pendidikan tinggi.
Selain itu banyak
penyelewengan-penyelewengan anggaran pendidikan yang dilakukan oleh dilakukan
aparat dinas pendidikan di daerah dan sekolah. Peluang penyelewengan dana
pendidikan itu terutama dalam alokasi dana rehabilitasi dan pengadaan sarana
prasarana sekolah serta dana operasional sekolah. Temuan tersebut dipaparkan
oleh Febri Hendri, Peneliti Senior Indonesia Corruption Watch (ICW) saat
menyoal Evaluasi Kinerja Departemen Pendidikan Nasional Periode 2004 – 2009 di
Jakarta, Rabu (9/9). Menurut Febri, selama kurun waktu 2004-2009, sedikitnya
terungkap 142 kasus korupsi di sektor pendidikan. Kerugian negara mencapai Rp
243,3 miliar. (Kompas.com tanggal 9 September 2009).
Padahal tujuan
utama dari pengucuran dana pendidikan tersebut seperti dana BOS adalah untuk
meningkatkan mutu pendidikan, menaikkan kualitas tenaga pendidik supaya siswa
Indonesia memiliki daya saing di tingkat internasional. Namun apa yang terjadi
selain penyelewengan seperti yang disebutkan di atas, terjadi penggunaan dana
BOS yang belum tepat seperti yang dimuat Kompas.com tanggal 28 Oktober 2009
yang merupakan hasil penelitian bidang pendidikan berkerja sama dengan Pusat
Penelitian Depdiknas yang dibahas dalam seminar bertajuk Mutu Pendidikan Dasar
dan Menengah yang dipaparkan oleh Bahar Sinring, Dekan Fakultas Muslim
Indonesia Makassar menyebutkan bahwa Dari penggunaan dana BOS di tiap provinsi
terlihat bahwa pemanfaatan untuk gaji guru atau tenaga administrasi honorer
mengambil porsi yang cukup besar sekitar 20-40 persen. Akibatnya, dana BOS yang
dapat dinikmati siswa, termasuk untuk membantu siswa miskin, berkurang.
Berdasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan diketahui bahwa enam dari sepuluh
sekolah menyimpangkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Rata-rata
penyimpangan itu senilai Rp 13,7 juta.
Menurut Ade (dalam
Kompas.com 9 September 2009 kebocoran anggaran ataupun dalam bentuk paling
parah seperti korupsi pendidikan, ini menyebabkan berkurangnya anggaran dan
dana pendidikan, merusak mental birokrasi pendidikan, meningkatkan beban biaya
yang harus ditanggung masyarakat, dan turunnya kualitas layanan pendidikan.
Bahkan, dalam beberapa kasus, korupsi pendidikan telah membahayakan nyawa
peserta didik dalam bentuk ambruknya gedung sekolah.
2. 1.Dampak Positif Globalisasi
dalam Pendidikan.
1.Pendidikan semakin berkembang melalui berbagai sarana dan prasarana selaku media yang digunakan dalam proses belajar mengajar.
Contohnya: internet. Sekolah-sekolah pada era globalisasi seperti sekarang ini, telah menggunakan fasilitas internet sebagai media belajar siswa. Hal tersebut menandakan adanya kemajuan teknologi yang mempengaruhi kemajuan di bidang pendidikan. Karena baik siswa maupun tenaga pendidik mampu mengakses ilmu dari berbagai sumber yang dapat menunjang bahan ajar untuk para siswa. Sehingga ilmu yang diperoleh dapat berkembang dan menghasilkan cikal bakal generasi muda Indonesia yang lebih unggul dan berkompeten.
2.Mengembangkan pola pikir siswa dan tenaga pendidik secara progresif.
Contohnya: Siswa dapat mengembangkan nalar berpikir secara ilmiah seperti menyusun karya-karya ilmiah yang digunakan untuk kemaslahatan umat.
3.Mampu menciptakan karya-karya inovatif yang bersumber dari pemikiran-pemikiran siswa melalui media yang ada serta dibantu oleh tenaga pendidik.
4.Meningkatkan kualitas tenaga pendidik sehingga pendidikan juga semakin berkembang pesat.
2.Dampak negatif globalisasi dalam pendidikan.
1.Menurunkan kualitas moral siswa. Karena melalui media internet, setiap siswa dapat mengakses segala informasi tanpa batas. Sehingga ada kemungkinan siswa terpengaruh akan situs-situs yang kurang baik dan dapat mempengaruhi pola pikir siswa serta tingkah laku siswa.
2.Mengurangi minat baca siswa. Karena adanya media internet, siswa cenderung malas membaca buku-buku ataupun literatur yang ada. Sehingga, siswa cenderung memiliki pemikiran yang sempit.
3.Menimbulkan kesenjangan social, karena adanya globalisasi yang tidak merata, masih ada daerah-daerah yang jauh dari kemajuan jaman. Hal tersebut mengakibatkan kesenjangan sosial dengan daerah-daerah yang cenderung lebih maju.
1.Pendidikan semakin berkembang melalui berbagai sarana dan prasarana selaku media yang digunakan dalam proses belajar mengajar.
Contohnya: internet. Sekolah-sekolah pada era globalisasi seperti sekarang ini, telah menggunakan fasilitas internet sebagai media belajar siswa. Hal tersebut menandakan adanya kemajuan teknologi yang mempengaruhi kemajuan di bidang pendidikan. Karena baik siswa maupun tenaga pendidik mampu mengakses ilmu dari berbagai sumber yang dapat menunjang bahan ajar untuk para siswa. Sehingga ilmu yang diperoleh dapat berkembang dan menghasilkan cikal bakal generasi muda Indonesia yang lebih unggul dan berkompeten.
2.Mengembangkan pola pikir siswa dan tenaga pendidik secara progresif.
Contohnya: Siswa dapat mengembangkan nalar berpikir secara ilmiah seperti menyusun karya-karya ilmiah yang digunakan untuk kemaslahatan umat.
3.Mampu menciptakan karya-karya inovatif yang bersumber dari pemikiran-pemikiran siswa melalui media yang ada serta dibantu oleh tenaga pendidik.
4.Meningkatkan kualitas tenaga pendidik sehingga pendidikan juga semakin berkembang pesat.
2.Dampak negatif globalisasi dalam pendidikan.
1.Menurunkan kualitas moral siswa. Karena melalui media internet, setiap siswa dapat mengakses segala informasi tanpa batas. Sehingga ada kemungkinan siswa terpengaruh akan situs-situs yang kurang baik dan dapat mempengaruhi pola pikir siswa serta tingkah laku siswa.
2.Mengurangi minat baca siswa. Karena adanya media internet, siswa cenderung malas membaca buku-buku ataupun literatur yang ada. Sehingga, siswa cenderung memiliki pemikiran yang sempit.
3.Menimbulkan kesenjangan social, karena adanya globalisasi yang tidak merata, masih ada daerah-daerah yang jauh dari kemajuan jaman. Hal tersebut mengakibatkan kesenjangan sosial dengan daerah-daerah yang cenderung lebih maju.
Bab IV : Penutup
a.
Kritik dan saran
b.
kesimpulan
0 komentar:
Posting Komentar